Sintang — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) melalui mata kuliah Apresiasi Sastra A22 melaksanakan proyek kreatif berupa penciptaan lirik lagu, pengembangan musik, produksi music video (MV), hingga peluncuran video musik dalam kegiatan pentas seni. Proyek ini menjadi bentuk pembelajaran berbasis praktik yang mengintegrasikan apresiasi sastra, kreativitas bermusik, keterampilan produksi audiovisual, dan kepedulian terhadap lingkungan. Karya yang dikembangkan berjudul “Sape yang Kehilangan Nadanya”, dengan tema “Jeritan Hutan Kalimantan di Tengah Keserakahan Manusia”. Lagu ini mengangkat kesedihan hutan Kalimantan yang perlahan-lahan kehilangan keindahannya akibat eksploitasi alam yang berlebihan.

Pengembangan ide lagu dilakukan oleh Peni dan Tika, yang merancang gagasan, cerita, suasana, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pendengar. Selanjutnya, proses penulisan lirik dipercayakan kepada Yosi, Jesika, dan Sisilia, sedangkan penyuntingan lirik dilakukan oleh Alisa untuk memperkuat pilihan kata, rima, majas, dan makna puitis. Dari sisi musikalitas, Fadil bertanggung jawab sebagai music director atau komposer yang mengembangkan lirik menjadi lagu, menentukan melodi, nada, tempo, dan karakter musik. Proses penataan musik dan aransemen dikerjakan oleh Fajri, sedangkan Alisya bertugas sebagai vokalis yang membawakan lagu dengan penghayatan sesuai suasana sedih dan sendu. Perpaduan unsur sastra dan musik tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman estetis sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan Kalimantan.

Dalam proses produksi musik video, Valentinus Ola Beding, S.S., M.Pd., bertindak sebagai produser yang mengoordinasikan keseluruhan kegiatan produksi. Tim penyutradaraan dipercayakan kepada Tari dan Emayda, sedangkan pengembangan naskah dan storyline dikerjakan oleh Rahma dan Revi. Pengambilan gambar ditangani oleh Marsa, Rido, dan Rifki, dengan Marsa juga bertanggung jawab sebagai Director of Photography (DOP) dan Rifki sebagai penata cahaya. Penataan artistik ditangani oleh Rido, sementara para pemeran yang terlibat adalah Paula, Ayu, Arin, Nana, Jesika, dan Yosi. Untuk mendukung penampilan visual, Tabita, Wita, dan Sari bertugas menyiapkan riasan serta busana pemeran. Proses penyuntingan video dipercayakan kepada Gabriela, pengolahan audio kepada Pira, serta dokumentasi dan publikasi kepada Cauza dan Kholifah. Pembagian tugas ini memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan sesuai dengan tanggung jawabnya sekaligus belajar bekerja sama dalam sebuah tim produksi kreatif.

Melalui lagu “Sape yang Kehilangan Nadanya”, mahasiswa ingin menggambarkan pepohonan yang tumbang, satwa yang kehilangan habitat, serta sungai yang terdampak kerusakan lingkungan. Sape, sebagai instrumen musik tradisional masyarakat Dayak, menjadi simbol harmoni budaya dan alam yang perlahan-lahan memudar. Karya ini membawa pesan bahwa alam bukan sekadar sumber kekayaan yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan titipan kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Proyek Apresiasi Sastra A22 ini dirancang untuk mencapai tahap akhir berupa peluncuran (launching) musik video dalam kegiatan pentas seni. Melalui peluncuran tersebut, mahasiswa tidak hanya menampilkan hasil kreativitasnya kepada publik, tetapi juga menyampaikan ajakan untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, melestarikan kebudayaan Dayak, dan mengembalikan harmoni kehidupan di Bumi Kalimantan. Dengan demikian, pembelajaran Apresiasi Sastra menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membuktikan bahwa sastra tidak hanya hadir dalam bentuk tulisan, tetapi juga dapat berkembang menjadi karya musik dan audiovisual yang memiliki nilai seni, pendidikan, serta pesan sosial bagi masyarakat.

By pbsi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *